TPSOS Gedebage di Targetkan Beroperasi Awal 2027

oleh
banner 468x60

Kota Bandung, ER3 News.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan pengembangan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari di Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPSOS) Gedebage.

banner 336x280

Komitmen tersebut di tandai dengan penandatanganan kerja sama antara Pemkot Bandung, Danantara, dan Kemdiktisaintek di Balai Kota Bandung, Jumat, 21 Agustus 2026.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, pengembangan fasilitas tersebut merupakan langkah cepat yang di lakukan Pemkot Bandung untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah dengan teknologi baru.

“Di hari Jumat siang ini telah ada kesepakatan bersama, komitmen bersama antara Pemerintah Kota Bandung dengan PT Danantara Development Management Fund dan Kementerian Dikti, Sains dan Teknologi. Dalam hal ini kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,” ujar Farhan.

Akan di Bangun di Kawasan Gedebage.

Menurut Farhan, fasilitas tersebut akan di bangun di kawasan Gedebage. Pemkot Bandung bersama pihak terkait sebelumnya telah melakukan survei lokasi. Dan menilai kawasan tersebut memungkinkan untuk di kembangkan sebagai fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari.

Farhan mengatakan, langkah tersebut penting karena Kota Bandung selama ini masih bergantung pada fasilitas tempat pemprosesan akhir yang di kelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang di bangun oleh Provinsi. Baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang di bangun di Legok Nangka,” katanya.

Menurut Farhan, proses pembangunan Legok Nangka masih membutuhkan waktu. Karena itu, Kota Bandung perlu bergerak menyiapkan solusi pengelolaan sampah sembari menunggu fasilitas tersebut beroperasi.

“Waktu itu Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa?. Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,” ujarnya.

Mengurangi Ketergantungan Terhadap TPA.

Farhan menargetkan pembangunan dan persiapan fasilitas dapat di percepat sehingga mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.

Ia mengatakan, aspek administrasi pemerintahan juga akan segera di siapkan. Termasuk finalisasi perubahan anggaran 2026 dan penyusunan Kebijakan Umum Anggaran 2027.

Farhan berharap, pengembangan fasilitas di Gedebage menjadi solusi konkret untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah Kota Bandung. Sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA.

Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa. Ia mengatakan, Bahwa teknologi yang di siapkan mengusung konsep pengolahan sampah secara terdesentralisasi.
Sampah tidak seluruhnya perlu di bawa ke tempat pembuangan akhir, tetapi dapat di selesaikan di wilayah masing-masing.

Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa.

“Ini adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya tidak perlu di bawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,” kata Sigit.

Ia menjelaskan, teknologi tersebut akan memproses sampah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF). Material dengan nilai kalor tinggi yang dapat di manfaatkan sebagai bahan bakar untuk refinery, pabrik, maupun boiler.

Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah. Tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan dapat di manfaatkan untuk kebutuhan industri.

Harus Memenuhi Aspek Lingkungan Dan Sosial.

Sigit mengatakan, teknologi yang di pilih juga harus memenuhi aspek lingkungan dan sosial. Salah satunya dengan memastikan proses pengolahan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat sekitar.

“Kita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan ter-capture. Sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Dari sisi investasi, Sigit menyebut nilai pembangunan fasilitas berkapasitas 300 ton per hari masih dalam tahap penghitungan finansial. Berdasarkan proses benchmarking, kebutuhan investasi di perkirakan berada pada kisaran Rp50 miliar hingga Rp60 miliar.

Ia mengatakan, fasilitas di Gedebage menjadi tahap awal atau pilot project. Apabila berhasil, konsep serupa dapat di kembangkan di lokasi lain. Termasuk di sejumlah sub wilayah kota (SWK) di Kota Bandung dan daerah lainnya.

Perguruan Tinggi Telah Melakukan Berbagai Kajian.

Selanjutnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto. Ia menyampaikan, pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari dukungan perguruan tinggi dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah di berbagai wilayah Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto.

Menurutnya, perguruan tinggi melakukan berbagai kajian untuk mendapatkan pendekatan teknologi yang dapat di terapkan sesuai kebutuhan daerah.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, dari perguruan-perguruan tinggi melakukan berbagai kajian untuk mendukung percepatan penyelesaian sampah yang ada di berbagai wilayah Indonesia,” kata Brian.

Ia menjelaskan, teknologi yang di kembangkan memproses sampah organik maupun nonorganik melalui pendekatan yang berbeda, termasuk pemanfaatan maggot untuk sampah organik dan SRF untuk material yang dapat di olah menjadi bahan bakar.

Brian mengatakan, kajian tersebut juga memperkaya teknologi yang telah di kembangkan di sejumlah negara, termasuk Turki. Tujuannya untuk mendapatkan teknologi yang di nilai sesuai dengan kebutuhan Kota Bandung.

“Ini tahap awal, sebagai pilot project. Kalau ini bisa berhasil, kita berharap setiap SWK juga bisa di lakukan pembangunannya. Sehingga penyelesaian sampah di Kota Bandung ini harapannya bisa di selesaikan. Dan akan menjadi percontohan untuk daerah-daerah lain,” ujarnya.

Brian berharap, kolaborasi antara Pemkot Bandung, Kemdiktisaintek, Danantara, serta perguruan tinggi dapat menghasilkan model pengelolaan sampah yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan dapat di replikasi di daerah lain.

Pengembangan fasilitas pengolahan sampah di TPSOS Gedebage di harapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terdesentralisasi di Kota Bandung, dengan kapasitas awal hingga 300 ton sampah per hari dan target operasional pada awal 2027.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *