Bandung, ER3 News.com – Sektor TNI Satgas Citarum Harum memaparkan rangkaian capaian selama 50 hari kerja pelaksanaan kegiatan tahun 2025 dalam rapat evaluasi yang di gelar di Posko Satgas PPK DAS Citarum, Kota Bandung. Pertemuan ini melibatkan unsur TNI, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Bappeda Jabar, serta para komandan sektor. Evaluasi ini menjadi momentum untuk menilai hasil kerja lapangan dan merumuskan strategi pemulihan Sungai Citarum pada tahun 2026.

Kerja Bersama untuk Mengendalikan Pencemaran DAS Citarum
Satgas menegaskan bahwa persoalan DAS Citarum berasal dari berbagai sumber, mulai dari sampah liar, limbah industri, limbah ternak, hingga perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Karena itu, upaya pengendalian harus di lakukan secara terpadu, mengacu pada Perpres dan rencana aksi pengendalian pencemaran agar penanganan lebih terarah dan berkelanjutan.
Evaluasi ini menjadi ruang untuk meninjau apa yang sudah efektif, apa yang perlu di tingkatkan, dan fokus intervensi yang harus di perkuat pada tahun berikutnya.
Capaian Kerja Sepanjang 2025
Dalam periode evaluasi, Satgas mencatat sejumlah capaian lapangan yang signifikan:
113 titik TPS liar berhasil di petakan
175 aksi pembersihan area sekitar TPS liar
863 m³ sampah liar di angkat dari aliran sungai
203 kegiatan patroli sungai
120 industri di data terkait kepatuhan pengelolaan limbah
80 patroli outfall pembuangan limbah industri
8.274 ekor ternak terdata terkait pengelolaan limbah
1.184 keluarga menerima edukasi door-to-door mengenai pengelolaan sampah
Data ini bukan hanya mencerminkan volume kerja, tetapi juga menjadi dasar pemetaan ulang titik rawan pencemaran dan penentuan strategi intervensi untuk tahun 2026.

Dampak yang Di harapkan
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Satgas menargetkan:
berkurangnya TPS liar di sepanjang aliran sungai;
meningkatnya kepatuhan industri dalam pengelolaan limbah;
perubahan kebiasaan masyarakat dalam memilah dan membuang sampah;
perbaikan kualitas fisik sungai dari segi warna dan bau;
intervensi lapangan yang lebih tepat sasaran berdasarkan data patroli dan edukasi.
Pernyataan Para Pimpinan
Komandan Satgas, Kolonel Yanto Kusno Hendarto, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan harus berfokus pada hasil nyata.
“Evaluasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan harus di lihat dari dampaknya—mulai dari berkurangnya TPS liar hingga membaiknya kondisi sungai.”
Koordinator Sekretariat Satgas, Sandhi Firmansyah, menyoroti pentingnya pemanfaatan data lapangan.
“Pendataan patroli, industri, dan edukasi rumah tangga memberi gambaran presisi untuk intervensi berikutnya, terutama di titik rawan,” ujarnya.
Ketua Harian Satgas menambahkan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi langkah kunci pemulihan jangka panjang.
“Berapa pun anggarannya, persoalan tidak akan selesai jika perilaku masyarakat dan pemangku kebijakan tidak berubah. Perbaikan harus di mulai dari pengelolaan sampah di darat.”
Arah Program Tahun 2026
Satgas menetapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat upaya pemulihan sungai, di antaranya:
pemutakhiran peta TPS liar dan peningkatan intensitas patroli;
penguatan pengawasan dan penegakan aturan pengelolaan limbah industri;
pembinaan pengelolaan limbah ternak dan pengembangan pilot project pengolahan kohe;
perluasan edukasi masyarakat melalui pendekatan door-to-door dan sosialisasi terpadu;
penyelarasan sektor dengan pembagian segmen RPPMA;
peningkatan peran pemerintah daerah agar tidak sepenuhnya bergantung pada TNI.
Satgas juga mengajak masyarakat berperan aktif, termasuk melaporkan pembuangan sampah liar dan membiasakan pemilahan sampah dari rumah tangga.







