Bandung, ER3News.com – Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menegaskan Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 tidak boleh dipandang sebagai rutinitas administratif semata. Menurutnya, survei ini harus menjadi momentum introspeksi mendalam untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan.
“Angka ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Masih ada pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, mulai dari pengendalian gratifikasi, pengadaan barang/jasa, peningkatan kualitas layanan publik, hingga manajemen ASN yang lebih transparan,” kata Erwin saat membuka acara Sosialisasi SPI dan Program Pengendalian Gratifikasi di Grand Hotel Preanger, Jalan Asia Afrika, Rabu (27/8/2025).
Pada SPI 2024, Kota Bandung mencatat skor 69,14 yang masuk kategori rentan. Untuk tahun 2025, Pemkot menargetkan skor minimal 70,90. Erwin menekankan target ini tidak boleh hanya dianggap angka, melainkan harus menjadi bukti perbaikan integritas birokrasi.
Ia juga menyampaikan bahwa persiapan teknis sudah rampung. Data responden telah tervalidasi, mencakup 3.613 responden internal (pegawai), 767 responden eksternal (pengguna layanan/vendor), dan 108 responden expert (stakeholder/pakar). “Secara teknis kita sudah siap, tinggal memastikan praktik baik benar-benar dijalankan di lapangan,” ujarnya.
Lebih jauh, Erwin menekankan tiga hal kunci: pimpinan perangkat daerah harus menjadi teladan integritas, ASN wajib memberikan data yang jujur dan akurat, serta hasil SPI harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata. “Saya tidak ingin target ini berhenti pada angka semata. Saya ingin melihat perubahan nyata: pelayanan publik yang lebih bersih, pengadaan barang/jasa yang transparan, pengendalian gratifikasi yang tegas, dan manajemen ASN yang profesional,” tegasnya.
Erwin juga menekankan bahwa SPI merupakan cermin kepercayaan publik terhadap pemerintah. “Jika nilainya rendah, maka citra kita di mata publik pun rendah. Karena itu mari kita jadikan SPI sebagai momentum introspeksi dan muhasabah,” ujarnya.





