Bandung, ER3News.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memanfaatkan momentum Hari Tani Nasional 2025 untuk meluncurkan Rencana Induk Ketahanan Pangan 2025–2030 sekaligus aplikasi pemanfaatan sisa makanan (food waste). Kedua langkah ini dinilai sebagai terobosan penting dalam memperkuat kemandirian pangan perkotaan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa ketahanan pangan adalah pilar penting kedaulatan bangsa.
“Tanpa ketahanan pangan, ancaman terhadap negara akan semakin besar. Maka Bandung harus menyiapkan grand design pangan yang berkelanjutan,” ujarnya di Pendopo Kota Bandung, Rabu, 24 September 2025.
Farhan menjelaskan, rencana induk tersebut menjadi pedoman jangka panjang untuk seluruh program pangan kota. Mulai dari perlindungan lahan pertanian, pemanfaatan teknologi, hingga perencanaan distribusi pangan.
“Ini bukan proyek satu tahun, melainkan arah jangka panjang yang wajib dijaga,” katanya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menambahkan bahwa Bandung tidak bisa berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan.
“Kota Bandung bukan produsen, 96 persen pangan kita bergantung dari luar. Maka kita harus punya desain yang terintegrasi agar pasokan tetap terjamin,” ucapnya.
Selain rencana induk, Pemkot Bandung memperkenalkan aplikasi pengelolaan food waste. Aplikasi ini menghubungkan sisa makanan dari hotel, restoran, hingga rumah tangga dengan kelompok masyarakat agar tetap bermanfaat.
“Sisa makanan yang masih layak bisa dialihkan ke masyarakat, sementara yang tidak layak diolah menjadi pupuk organik. Aplikasi ini lahir dari kerja sama dengan Unpar dan komunitas lokal,” jelas Gin Gin.
Data DKPP mencatat, indeks ketahanan pangan Kota Bandung pada 2023 berada di angka 90,46, lebih tinggi dibanding rata-rata Jawa Barat. Meski begitu, tantangan masih ada, mulai dari kasus gizi buruk, ketergantungan suplai luar daerah, hingga tingginya tingkat food waste.
Melalui rencana induk dan inovasi aplikasi pangan ini, Pemkot Bandung ingin membuktikan bahwa kota metropolitan tetap bisa menjaga ketahanan pangan lewat kolaborasi, efisiensi, dan inovasi berkelanjutan.





