Ketika Hukum Tak Lagi Netral, Demokrasi Berubah Jadi Panggung Kekuasaan

oleh
Tom Lembong, Feri Amsari, Haris Azhar dan Bahaya Negara yang Anti-Kritik

BANDUNG, ER3News.com – Ketika Hukum Jadi Cermin Kekuasaan Di negeri ini, keberanian tak lagi cukup. Integritas pun tak lagi sakti. Hari-hari ini, kita menyaksikan satu per satu nama yang selama ini teguh menjaga nalar dan menyuarakan akal sehat justru dijadikan sasaran. Mereka ditekan. Diganggu. Bahkan dibungkam meski tanpa menyebut kata “bungkam”.

Nama-nama seperti Feri Amsari, akademisi hukum tata negara yang konsisten menyoroti penyimpangan konstitusi. Haris Azhar, aktivis HAM yang tajam dan tak gentar bicara soal ketimpangan kekuasaan.

Dan kini, giliran Thomas “Tom” Lembong  mantan pejabat, ekonom bersih, dan teknokrat nasionalis  ikut terseret ke ruang gelap pemeriksaan hukum, hanya karena menyuarakan sikap berbeda.

Apa kesamaan mereka?

Mereka semua tidak nyaman dengan diam. Mereka memilih jalan yang tidak populer: menyuarakan yang benar, meski berseberangan dengan kekuasaan. Namun sayangnya  di republik ini  jalan yang benar sering kali jalan yang sunyi, bahkan berbahaya.

“Apakah ini penegakan hukum, atau penegakan kekuasaan?

Pertanyaan itu perlahan muncul dan menggema dalam benak publik. Bagaimana mungkin seseorang dengan rekam jejak sebersih Tom Lembong, yang pernah ikut menyusun fondasi ekonomi nasional, tiba-tiba dipanggil aparat karena sikap politiknya yang kritis?

Sementara, sejumlah tokoh yang pernah terseret berbagai skandal besar justru tetap duduk nyaman di kursi kekuasaan. Bahkan, tak sedikit yang mendapat jabatan baru.

Kita seperti menonton panggung sandiwara, di mana alur cerita tak masuk akal, namun penonton tak bisa meninggalkan pertunjukan.

Bahaya Demokrasi yang Dibelokkan

Demokrasi memang memungkinkan siapa saja bicara. Tapi bila hukum berubah menjadi alat untuk membungkam lawan dan melindungi kawan, maka demokrasi hanya tinggal papan nama.

Yang ditegakkan bukan lagi keadilan, melainkan ketakutan. Dan ketakutan itu kini menyebar perlahan, tapi pasti.
Aktivis mulai berhitung.
Akademisi mulai ragu.
Wartawan mulai memilih frasa yang aman.
Dan rakyat mulai berpikir:

“Untuk apa mengkritik, jika yang benar saja bisa disalahkan?”

Refleksi untuk Kita Semua

Saya tidak kenal pribadi dengan Tom Lembong. Tapi saya tahu: saat orang-orang seperti dia mulai disingkirkan, yang dilumpuhkan bukan hanya individu, tapi ekosistem berpikir kritis di negeri ini.

Dan ketika berpikir kritis dianggap ancaman, maka kita semua  cepat atau lambat  bisa jadi target berikutnya.

Keadilan tak boleh tunduk pada kekuasaan.
Dan kekuasaan yang alergi kritik, tengah membangun kerajaannya sendiri  bukan republik.

(johar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.