ER3 News.com – Pertandingan final Liga Champions musim 2025/2026 menyajikan laga yang sangat dramatis dan berjalan ketat. Paris Saint-Germain (PSG) berhasil mempertahankan gelar juara usai menaklukkan Arsenal dengan skor 4-3 lewat babak adu penalti. Pertandingan di Puskas Arena, Budapest, Hungaria, yang berlangsung pada dini hari 31 Mei waktu Indonesia Barat. Yang mana pertandingan tersebut berakhir imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu usai di lalui.
Kemenangan ini menjadikan PSG sebagai tim pertama di era Liga Champions yang sukses meraih gelar juara secara beruntun. Sekaligus mengukir sederet rekor dan tonggak sejarah baru dalam kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa.

Di bawah asuhan pelatih Luis Enrique, PSG tampil sangat mendominasi sepanjang pertandingan. Tim asal Prancis ini mencatatkan penguasaan bola hingga 75,3 persen. Merupakan angka tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah pertandingan final Liga Champions.
Menariknya, skuad PSG yang di turunkan malam itu memiliki kemiripan besar dengan susunan pemain tahun lalu. Tepat 10 pemain (di luar posisi kiper) yang menjadi starter di final musim sebelumnya kembali di percaya mengawali laga kali ini. Catatan ini hanya pernah di lakukan oleh satu tim lain sebelumnya, yakni Real Madrid pada edisi 2017 dan 2018.
Pelatih Asal Spanyol Kini Memiliki Koleksi 3 Trofi Liga Champions.
Gol penyeimbang yang di cetak Ousmane Dembele pada menit ke-64 juga membawa PSG menyamai rekor gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions. Total koleksi gol Les Parisiens kini berjumlah 45 gol, sama dengan rekor yang di buat Barcelona pada musim 1999/2000.
Keberhasilan meraih dua gelar berturut-turut semakin mengukuhkan nama Luis Enrique. Pelatih asal Spanyol ini kini memiliki koleksi 3 trofi Liga Champions. Yang menyamai rekor jumlah gelar yang di pegang oleh nama-nama besar seperti Bob Paisley, Zinedine Zidane, dan Pep Guardiola. Luis Enrique. Juga menjadi pelatih pertama yang menjuarai kompetisi ini dua kali beruntun sejak era Zidane bersama Real Madrid (2016–2018). Satu-satunya pelatih dengan koleksi lebih banyak masih di pegang Carlo Ancelotti dengan 5 gelar.
Prestasi PSG juga tercatat dalam sejarah karena berhasil meraih gelar juara liga domestik dan Liga Champions secara bersamaan dalam dua musim berturut-turut. Prestasi serupa sebelumnya hanya pernah di capai pada era Piala Eropa lama oleh Real Madrid (1956–1958) dan Ajax Amsterdam (1971–1973).

Sementara kebahagiaan meluap bagi kubu PSG, kekecewaan mendalam di rasakan oleh Arsenal. Tim asuhan Mikel Arteta harus mengakui keunggulan lawan. Dan menutup musim yang sangat panjang dengan hasil yang menyakitkan. Ini adalah final Liga Champions pertama dalam 10 tahun yang harus di tentukan melalui perpanjangan waktu dan adu penalti.
Arsenal mencatatkan fakta unik sekaligus menyedihkan. Tim ini hanya tertinggal di papan skor selama total 42 menit 48 detik sepanjang musim ini, angka paling sedikit di bandingkan tim manapun. Namun, dari akhir babak pertama hingga laga usai, Arsenal nyaris tidak berdaya secara serangan dengan catatan Expected Goals (xG) yang sangat rendah, hanya 0,01. Bahkan, kiper PSG, Matvei Safonov, tercatat tidak perlu melakukan satu pun penyelamatan. Berarti sepanjang pertandingan berlangsung, baik di waktu normal, tambahan, maupun saat adu penalti.
Selain itu, Arsenal menjadi klub Inggris pertama yang kalah dalam adu penalti melawan tim asing di final Liga Champions. Sebelumnya, kekalahan lewat titik putih yang di alami tim Inggris selalu melibatkan sesama klub Inggris (seperti final 2008: Manchester United vs Chelsea).
Arsenal Masih Menunggu Lama Untuk Mencium Trofi Liga Champion.
Meski gagal juara, sejumlah catatan individu lahir dari kubu The Gunners. Kai Havertz yang mencetak gol pembuka pada menit ke-6. Dan mencatatkan diri sebagai pemain kesembilan yang mencetak gol di lebih dari satu final Liga Champions. Lebih dari itu, Havertz masuk dalam daftar elit berisi Cristiano Ronaldo dan Mario Mandžukić. Dan sebagai satu-satunya pemain yang mampu mencetak gol di final piala Eropa untuk dua klub berbeda (Chelsea dan Arsenal).

Sementara itu, Myles Lewis-Skelly mencetak rekor sebagai pemain Inggris termuda kedua yang menjadi starter di final Liga Champions. Gelandang ini berumur 19 tahun 246 hari, hanya terpaut 15 hari dari rekor Trent Alexander-Arnold bersama Liverpool pada 2018 silam.
Kegagalan di final ini membuat Arsenal masih harus menunggu lebih lama untuk mencium aroma trofi Liga Champions. Setelah berpartisipasi dalam 266 pertandingan di kompetisi ini dan pendahulunya, The Gunners masih belum juga mengangkat piala juara. Maka menjadikannya klub dengan rekor pertandingan terbanyak tanpa gelar di kompetisi elit Eropa tersebut. Impian meraih gelar ganda juara Liga Inggris dan Liga Champions pun pupus sudah di Budapest. Dan juga menutup musim tersibuk Arsenal dalam 46 tahun terakhir dengan total 63 pertandingan.








